Markas Besar Kepolisian RI memastikan Nur Said alias Nur Hasbi dan Ibrahim bukan pelaku bom bunuh diri di Hotel J.W. Marriott dan Hotel Ritz Carlton pada 17 Juli lalu.
Mabes Polri justru mengeluarkan sketsa pelaku yang salah satunya masih remaja. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Nanan Soekarna di Jakarta, Rabu (22-7), secara resmi mengumumkan sketsa wajah dari orang yang diduga menjadi pelaku bom bunuh diri di Hotel J.W. Marriott dan Ritz Carlton.
Menurut Nanan, sketsa wajah itu dibuat berdasarkan temuan dua potong kepala di dua lokasi ledakan. Ciri fisik potongan kepala di Hotel J.W. Marriott antara lain berjenis kelamin laki-laki, umur 16–17 tahun, kulit putih, rambut hitam lurus pendek, tinggi badan diperkirakan 180–190 cm, dan ukuran sepatu sekitar 42–43. “Ukuran sepatu dapat diketahui karena polisi menemukan sepatu yang diduga dipakai pelaku bom bunuh diri di Marriott,” kata Nanan. Ia didampingi Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigadir Jenderal Eddy Suparwoko.
Adapun sketsa potongan kepala yang ditemukan di Hotel Ritz Carlton antara lain berciri jenis kelamin laki-laki, umur 20–40 tahun, kulit sawo matang, rambut hitam lurus pendek, dan tinggi badan sekitar 165 cm.
Generasi Platinum
Keterlibatan remaja dalam jaringan terorisme, menurut peneliti terorisme Al Chaidar, memperlihatkan perencanaan pengeboman itu sudah dilakukan sejak lama. Itu disebabkan, kata dia, butuh waktu tidak sedikit untuk mengindoktrinasi remaja. “Dulu, pelaku pengeboman berusia sekitar 30–40 tahun dan berasal dari kalangan pergerakan,” kata dia.
Remaja yang terlibat bom itu termasuk generasi platinum yang lahir di masa keterbukaan teknologi, keterbukaan cara berpikir, dan keterbukaan berperilaku. Mereka memiliki karakter unik yang lebih ekspresif dan eksploratif selaras dengan arah perkembangan zaman. Akan tetapi, menurut Al Chaidar, remaja justru memiliki ketertarikan pada keresahan psikologis sehingga mudah dieksploitasi. Keterlibatan remaja dalam jaringan terorisme dimulai pada bom Madrid, Spanyol, pada 2004. Meski demikian, keterlibatan ABG dalam bom Mega Kuningan tetap fenomenal.
Sambut Gembira
Polisi hingga kini masih mencari siapa sesungguhnya pelaku pengeboman di dua hotel itu. Temuan sementara menunjukkan ada kecocokan antara kepemilikan tubuh dan barang yang ditemukan di kamar 1808 Hotel J.W. Marriott. Kamar hotel itu dipesan atas nama Nuri Hasdi yang beralamat di kawasan Pondok Pinang, Jakarta Selatan.
Nuri Hasdi itu belakangan disebut-sebut memiliki nama alias Nur Said atau Nur Hasbi. Namun, menurut Nanan, ternyata hasil DNA keluarga Nur Said tidak cocok dengan DNA potongan kepala yang ditemukan di lokasi pengeboman.
Pihak keluarga Nur Said (35), yang tinggal di Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah, menyambut gembira pernyataan kepolisian. “Kami bersyukur,” kata adik Nur Said, Udi Mas’ud.
Begitu juga hasil DNA keluarga Ibrahim ternyata tidak cocok dengan DNA potongan kepala. Ibrahim adalah karyawan Hotel Ritz Carlton yang bertugas sebagai penata bunga.
Istri Ibrahim, Sucihani (35), mengaku senang atas kabar dari Mabes Polri yang menyatakan suaminya bukan pelaku peledakan bom sekalipun keberadaan Ibrahim hingga kini belum diketahui.
Meski Ibrahim dinyatakan bukan sebagai pelaku bom bunuh diri, anggota Detasemen 88 Polri menggeledah rumah Ibrahim di kawasan Cililitan Kecil, Jakarta Timur, kemarin. Di dalam rumah yang sudah lama ditinggalkan itu, polisi menemukan sejumlah tulisan berbahasa Arab dan kaus warna putih bertuliskan Ritz Carlton. Di bawah kaus itu terdapat gambar gedung bertingkat mirip Ritz Carlton yang dilengkapi dengan coret-coret. n MI/U-1
KORBAN DITEMUKAN DI TKP HOTEL RITZ CARLTON JAKARTA
CIRI-CIRI
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Umur: 20-40 Tahun
Kulit: Sawo Matang
Rambut: Hitam, lurus, pendek
Tinggi badan: Kurang lebih 165 cm
KORBAN DITEMUKAN DI TKP HOTEL JW MARRIOTT JAKARTA
CIRI-CIRI
Jenis Kelamin: Laki-Laki
Umur: 16-17 Tahun
Kulit : Putih
Rambut: Hitam, lurus, pendek
Tinggi Badan: Kurang lebih 180 s/d 190 cm
@Lampungpost.com
